Kisah Ibrahim bin Adham: Burung yang Patah Sayapnya

waktu baca 3 menit
Sabtu, 16 Sep 2023 14:36 0 79 Muhammad Aiz Luthfi

Suatu hari, dua orang sufi terkenal, Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi bertemu di Makkah. Dalam pertemuan tersebut, Ibrahim bin Adham berhasil mengubah pemikiran Syaqiq Al-Balkhi. Hal ini bermula ketika Ibrahim bin Adham memulai dialog dengan melontarkan pertanyaan pada Syaqiq.  

“Bagaimana kisah awal perjalanan spiritualmu?” demikian pertanyaan Ibrahim bin Adham pada Syaqiq, sebagaimana dikisahkan oleh Khalaf bin Buhaim dan dicatat oleh Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab ‘Uyunul Hikayat. (Ibnu Jauzi, ‘Uyunul Hikayat​​​​​​, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1971], halaman 285).  

Mendapat pertanyaan itu, Syaqiq langsung menceritakan pengalaman pribadinya yang menjadi titik tolaknya menempuh perjalanan spiritual.  

Diceritakan Syaqiq, suatu hari ia sedang menempuh perjalanan di sebuah gurun. Merasa lelah, ia pun beristirahat untuk mengembalikan energi yang terkuras oleh panasnya terik matahari.   

Saat istirahat, tiba-tiba Syaqiq dikagetkan oleh seekor burung yang jatuh tidak jauh dari tempat istirahatnya. Setelah diperhatikan, ternyata burung itu sayapnya patah sehingga tidak mampu untuk terbang dan mencari makanan.  

“Kita lihat, dari mana burung ini bisa mendapatkan makanan?” gumam Syaqiq dalam hatinya sambil mendekati dan terus memperhatikan burung itu.  

Ibrahim bin Adham belum memberikan respons, ia tetap fokus mendengarkan kisah Syaqiq Al-Balkhi.   Tiba-tiba, kata Syaqiq, datang seekor burung yang sehat dan normal mendekati burung yang sakit dan terjatuh.  

“Burung sehat ini membawa belalang di paruhnya, lalu menyodorkan belalang itu ke paruh burung yang sayapnya patah,” sambung Syaqiq.  

Peristiwa tersebut membuat hati Syaqiq tertegun. Ia pun memuji kekuasaan Allah yang telah memberikan rejeki berupa makanan kepada burung yang tak berdaya di tengah gurun.  

“Allah juga pasti akan memberiku rejeki di mana pun aku berada,” kata Syaqiq penuh keyakinan.  

Sejak saat itu, masih kata Syaqiq kepada Ibrahim bin Adham, ia memilih memfokuskan diri untuk beribadah dan tidak bekerja karena yakin bahwa Allah akan tetap memberi rejeki, sebagaimana burung yang sayapnya patah itu.  

Setelah Syaqiq selesai bercerita, Ibrahim bin Adham memberikan pertanyaan sekaligus pernyataan yang membuat Syaqiq tercengang.  

“Wahai Syaqiq, mengapa engkau malah memilih menjadi seperti burung yang sayapnya patah itu, mengapa tidak memilih menjadi burung yang sehat dan memberi makan burung yang sakit tersebut?” ucap Ibrahim bin Adham pada Syaqiq.  

Tidak berhenti di situ, Ibrahim bin Adham juga mengutip hadits Rasulullah saw.  

“Tidakkah engkau mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah?” ucap Ibrahim bin Adham.  

“Bukankah di antara tanda seorang mukmin sejati adalah menginginkan satu dari dua derajat yang lebih tinggi dari berbagai hal, hingga dia mencapai tingkatan Al-Abrar?” sambung Ibrahim bin Adham.  

Usai mendengar penjelasan Ibrahim bin Adham, Syaqiq AI-Balkhi langsung memegang dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata: “Anda guru kami, wahai Abu Ishaq.”  

Dari kisah ini dapat dipetik hikmah, menempuh perjalanan spiritual tidak harus meninggalkan kehidupan sosial. Lebih dari itu, bisa ditingkatkan dengan selalu menebarkan kebaikan dan terus memberikan manfaat kepada orang lain.  

Muhammad Aiz Luthfi, Pengajar Pesantren Al-Mukhtariyyah Al-Karimiyyah, Subang, Jawa Barat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *