PANTUN LAPIS MODERASI

waktu baca 3 menit
Minggu, 26 Mar 2023 22:15 0 107 Dr. Asrar Mabrur Faza, MA

Menutup aurat mesti sempurna
Meskipun batasnya beda-beda
Sikap moderasi bisa ditanda
Dari cara menjawab salamnya

Memakai baju jangan ketat
Agar sesuai tuntunan Islam
Bukanlah disebut muslim moderat
Dengar salam non muslim malah diam

Jangan berlebihan dalam berpakaian
Semua tertutup termasuk bola mata
Moderasi punya level atau lapisan
Tergantung jawaban salam kita

Pakai celana panjang biasa
Tidak pendek atau terlalu menjulur
Ada yang menjawab dengan: Wa ‘alaika
Itu lapis pertama dan pendapat jumhur (1)

Etika sosial dan ajaran Islam
Landasan normatif cara berpakaian
Lapis kedua dengan: Wa ‘alaikum salam
Menurut Imam al-Hasan diperbolehkan (2)

Jilbab eksis sebelum Islam
Penggunaannya diatur di masa Nabi (3)
Ini kisah ulama menjawab salam
Salam dari seorang Kristiani

Berbaju cantik taklah mengapa
Sebab kecantikan disukai Allah (4)
Ini al-Sya‘bi punya nama (5)
Menjawab: Wa ‘ailaikum salam warahmatullah (6)

Asma’ diajari etika berpakaian
Riwayatnya dalam hadis terabadikan (7)
Ditanya al-Sya‘bi kenapa demikian
Al-Sya‘bi punya alasan menakjubkan

Berbaju janganlah tipis kata Nabi
Sampai kelihatan atau transparan
Ternyata beginilah alasan al-Sya‘bi
Kristiani juga hidup dalam rahmat Tuhan
(8)

Pegang sunnah dengan kokoh
Tetapi harus bijak bestari
Kisah ulama ini bisa jadi contoh
Teladan moderasi lapis tertinggi

Bulan Ramadhan mengaji moderasi
Sambil meraup ibadah lain
Bukan sekedar lapis tertinggi
Bahkan implementasi rahmatan lil ‘alamin

___________________________

Catatan:

  1. Muḥammad bin ‘Umar al-Nawawī al-Jāwī, Tafsīr Marāḥ Labīd li Kayf Ma‘nā Qur’ān al-Majīd, juz I (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1417 H), h. 215.
  2. Al-Jāwī, Tafsīr Marāḥ Labīd, juz I, h. 215.
  3. Muḥammad ‘Izzat Darwazah, al-Tafsīr al-Ḥadīṡ: Murattab Ḥasba Tartīb al-Nuzūl, juz VII (Kairo; Dār al-Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1383 H), h. 419.
  4. Hadis pada Kitāb al-Īmān/1, Bāb Taḥrīm al-Kibr wa Bayānihi/39, hadis nomor 147. Muslim bin al-Ḥajjāj al-Naisābūrī, al-Musnad al-Ṣahīḥ al-Mukhtaṣar bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ilā Rasūlillāh Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam (Beirut: Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, t.th.), h. 93.
  5. Al-Sya‘bī (w. 103 H), nama aslinya Abū ‘Amrū ‘Āmir bin Syarāḥīl al-Sya‘bī al-Kūfī, salah seorang tabiin yang telah bertemu dengan 500 sahabat Nabi. Makḥūl mengatakan: Aku tidak pernah melihat ada orang yang lebih fakih daripada al-Sya‘bī. Abū al-Ḥajjāj Yūsuf bin ‘Abd al-Raḥman al-Mizzī, Tahżīb al-Kamāl fī Asmā’ al-Rijāl, juz XIV (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 1980), h. 28, 35, 39.
  6. Al-Jāwī, Tafsīr Marāḥ Labīd, juz I, h. 215.
  7. Hadis sahih, pada Kitāb al-Libās/31, Bāb Fīmā Tubdī al-Mar’ah Min Zīnatihā, hadis nomor 4104. Lihat Abū Dāwud Sulaimān bin al-Asy‘aṡ al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwud, juz IV (Beirut: Maktabah al-‘Aṣriyah, t.th.), h. 62.
  8. Al-Jāwī, Tafsīr Marāḥ Labīd, juz I, h. 215.

Dr. Asrar Mabrur Faza, MA

Dosen Ilmu Hadis IAIN Langsa

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *